Tahun 2025. Ardianova Rachmatta, seorang konsultan senior yang telah menghabiskan 20 tahun hidupnya membangun reputasi dan jaringan profesional, kini duduk sendirian di rumah. Sebuah setelan jas mahal tergantung rapi di lemarinya — jas yang tak pernah ia kenakan lagi sejak kantornya menggantikan tim konsultasinya dengan solusi AI yang lebih murah dan jauh lebih efektif. Tak ada lagi presentasi keuangan, tak ada lagi rapat strategi di ruang konferensi megah dengan para eksekutif yang menunggu dengan napas tertahan untuk mendengar analisanya.
Ardianova adalah korban dari sesuatu yang tak pernah ia duga: ia telah digantikan oleh algoritma. Teknologi yang selama ini ia bantu implementasikan untuk perusahaan klien, kini berbalik menghancurkan hidupnya. Ironis, bukan?
Awal Kejatuhan
Semuanya dimulai dengan euforia awal tentang AI beberapa tahun yang lalu. Ardianova masih ingat dengan jelas pertemuan pertama dengan Optima, sistem AI yang mengklaim mampu melakukan pekerjaan konsultasi yang dulu hanya bisa dikuasai oleh manusia berpengalaman seperti dirinya. Saat itu, ia tertawa kecil.
“AI ini hanya alat,” ujarnya dengan percaya diri kepada rekan-rekannya. “Ia hanya bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan kita.”
Namun, ia salah. Sangat salah.
Beberapa bulan setelah peluncuran Optima, ia mulai merasakan dampaknya. Klien yang biasanya memohon jadwal pertemuan dengannya, tiba-tiba membatalkan kontrak. “Kami sudah mendapatkan solusi dari Optima,” kata salah satu klien besar yang telah ia layani selama bertahun-tahun. “AI ini memberikan analisis yang lebih cepat, prediksi yang lebih akurat, dan rekomendasi yang lebih tajam. Maaf, Ardianova, ini bukan tentang Anda, ini tentang efisiensi.”
Tak butuh waktu lama bagi Ardianova untuk kehilangan hampir semua kontraknya. Manajemennya bahkan mengeluarkan notifikasi yang sangat mengejutkan: firma konsultasinya akan diotomatisasi. Posisi konsultan senior seperti dirinya tidak lagi dibutuhkan.
Hari Terakhir di Kantor
Hari terakhirnya di kantor, Ardianova masuk lebih pagi dari biasanya. Ia berjalan melewati koridor panjang yang dulu ramai dengan para analis muda yang selalu memandangnya dengan penuh rasa hormat. Sekarang, koridor itu sepi. Suara langkah kakinya menggema, seakan mengiringi sebuah perpisahan yang tak terelakkan.
Ardianova memasuki ruang kerjanya dan duduk di kursi yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. Di mejanya, sebuah tablet diletakkan dengan pesan singkat dari HRD: “Terima kasih atas dedikasi Anda. Optima akan menangani transisi operasional mulai Senin depan.”
Tanpa kata perpisahan, tanpa acara terakhir. Hanya pesan singkat yang menandakan bahwa peran manusia yang dulu dianggap krusial kini hanya sebatas ‘item yang digantikan’. Tanpa ia sadari, tangannya gemetar saat ia mencoba menandatangani surat pengunduran diri.
Sejenak, ia merasa marah — bukan kepada perusahaan, bukan kepada AI, tetapi kepada dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa tidak melihat ini datang?
Dunia Tanpa Tempat untuk Konsultan Seperti Dirinya
Tiga bulan berlalu sejak Ardianova meninggalkan dunia yang telah ia geluti selama dua dekade. Ponselnya yang dulu sibuk dengan panggilan bisnis kini tak lagi berdering. Kotak emailnya sepi, kecuali dari tawaran kursus “Transitioning Your Career in the Age of AI” yang dikirimkan oleh platform pembelajaran online.
Dengan enggan, Ardianova mendaftarkan diri. Ia mencoba mengikuti beberapa kelas, namun semakin lama ia belajar, semakin ia merasa kecil. Algoritma yang ia pelajari terasa begitu kompleks dan asing. Dunia ini bukan lagi dunia yang ia kenal. Para pemuda berusia 20-an, yang dengan mudah mengotak-atik sistem AI dan memahami data besar, tampak jauh lebih siap dan tangkas daripada dirinya yang mulai merasa tua.
Ia juga mencoba memulai karir baru sebagai AI Trainer — sebuah posisi yang diciptakan untuk melatih mesin dalam memahami konteks manusia. Tetapi meski ia membawa pengalaman luas di dunia konsultasi, wawancaranya berakhir mengecewakan.
“Maaf, Pak Ardianova,” ujar pewawancara, seorang wanita muda yang bahkan mungkin lebih muda dari anaknya. “Kami mencari seseorang yang lebih terbiasa dengan deep learning models dan integrasi neural networks. Pengalaman Anda mengesankan, tapi tidak cukup relevan.”
Itu adalah tamparan keras. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ardianova merasa bahwa ia bukan lagi seorang ahli — ia adalah seseorang yang tersingkir oleh sesuatu yang lebih baru, lebih cepat, dan lebih tajam.
Keputusasaan di Rumah
Hari-harinya kini dihabiskan dengan duduk di rumah, menatap layar komputer yang hanya menampilkan kursus-kursus yang tak lagi ia minati. Tumpukan sertifikat berbingkai rapi yang dulu ia banggakan kini berserakan di lantai, tidak lebih dari kertas-kertas tak berharga.
Bahkan keluarganya mulai merasakan kejatuhannya. Istrinya, yang dulu bangga memperkenalkannya sebagai “konsultan yang bekerja di seluruh dunia,” kini mulai lebih banyak diam. Anak-anaknya melihatnya dengan simpati yang diam-diam membuatnya merasa kecil.
“Kamu harus keluar dari zona nyaman, Pak,” ujar istrinya suatu malam. “Dunia berubah. Kamu harus berubah juga.”
Ia tahu istrinya benar, tetapi bagaimana? Setelah 20 tahun menjadi seseorang yang diperhitungkan, bagaimana ia menerima bahwa ia kini hanyalah seorang yang tak lagi dibutuhkan?
Masa Depan yang Kelabu
Ardianova akhirnya mendapatkan pekerjaan — tetapi bukan sebagai konsultan, bukan sebagai pemimpin perubahan. Ia kini bekerja sebagai penjaga gudang otomatis di sebuah perusahaan besar yang menggunakan robot untuk mengatur dan mengirimkan barang.
Pekerjaannya sederhana: memantau mesin-mesin dan memastikan tidak ada gangguan dalam alur distribusi. Tugasnya lebih mirip pengawas daripada manajer, lebih banyak menatap layar dan menekan tombol ‘OK’ daripada menganalisis strategi besar seperti dulu.
Suatu hari, saat ia duduk sendirian di ruang kontrol, ia melihat pemberitahuan di layar: “AI update: Implementasi Sistem Optima 2.0 — menggantikan supervisor manusia.”
Ardianova tertawa kecil, kali ini bukan dengan sinisme, tetapi dengan perasaan kosong. Bahkan di sini pun ia akan segera digantikan. Apa yang tersisa dari dirinya?
Ia menutup laptopnya dan memandang keluar jendela. Hujan turun deras di luar, menutup pemandangan kota yang ia bangun karirnya selama puluhan tahun. Dunia ini bukan lagi tempat untuk manusia seperti Ardianova Rachmatta — ia hanyalah sisa-sisa dari masa lalu yang tak bisa mengikuti laju perubahan.
Hanya Kenangan
Malam itu, di ruang tamu yang gelap, Ardianova duduk sendiri dengan setumpuk sertifikat di tangannya. Ia menatap satu per satu, mencoba mengingat betapa bangganya ia dulu menerima setiap gelar dan penghargaan.
“Certified Change Manager,” bisiknya pelan, mengangkat salah satu plakat yang dulu menjadi kebanggaannya. “Sekarang, perubahan itu sendiri yang membunuhku.”
Tanpa sadar, setetes air mata jatuh di kertas itu. Ardianova bukan lagi seorang konsultan, bukan lagi seorang profesional. Ia hanyalah seorang yang dilupakan di dunia yang tak lagi memberi tempat bagi mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan cukup cepat.
Dalam dunia yang didominasi oleh mesin, manusia seperti Ardianova hanyalah bayangan dari masa lalu — tanpa relevansi, tanpa tujuan, dan tanpa masa depan.